NAMA : RYAN GUSTIANTO
KELAS : 4EA13
NPM : 16212746
SUB POKOK BAHASAN I
HAKIKAT
ETIKA BISNIS
A.
Hakikat Etika Bisnis
Menurut Drs. O.P.
Simorangkir bahwa hakikat etika bisnis adalah menganalisis atas asumsi-asumsi
bisnis, baik asumsi moral maupun pandangan dari sudut moral.
Karena bisnis beroperasi dalam rangka suatu sistem ekonomi, maka sebagian dari tugas etika bisnis hakikatnya mengemukakan pertanyaan-pertanyaan tentang sistem ekonomi yang umum dan khusus, dan pada gilirannya menimbulkan pertanyaan-pertanyaan tentang tepat atau tidaknya pemakaian bahasa moral untuk menilai sistem-sistem ekonomi, struktur bisnis.
Contoh praktek etika bisnis yang dihubungkan dengan moral :
Uang milik perusahaan tidak boleh diambil atau ditarik oleh setiap pejabat perusahaan untuk dimiliki secara pribadi. Hal ini bertentangan dengan etika bisnis. Memiliki uang dengan cara merampas atau menipu adalah bertentangan dengan moral. Pejabat perusahaan yang sadar etika bisnis, akan melarang pengambilan uang perusahaan untuk kepentingan pribadi, Pengambilan yang terlanjur wajib dikembalikan.
Pejabat yang sadar, disebut memiliki kesadaran moral, yakni keputusan secara sadar diambil oleh pejabat, karena ia merasa bahwa itu adalah tanggungjawabnya, bukan saja selaku karyawan melainkan juga sebagai manusia yang bermoral.
Contoh tidak memiliki kesadaran moral :
Seorang berdarah dingin di jalan juanda, Jakarta yang asangat ramai itu menodong dengan clurit dan merampas harta milik seseorang. Baginya menodong itu merupakan kebiasaan dan menjadi profesinya. Apakah ada kesadaram moral bahwa perbuatan itu bertentangan dan dilarang oleh ajaran agama, hukum dan adat? Sejak kecil ia ditingggalkan oleh ibu bapaknya akibat perceraian, ia bergaul dengan anak gelandangan,pencuri. Sesudah dewasa menjadi penodong ulung. Ia menodong atau membunuh tanpa mengenal rasa takut atau berdosa, bahkan sudah merupakan suatu profesi.
Karena bisnis beroperasi dalam rangka suatu sistem ekonomi, maka sebagian dari tugas etika bisnis hakikatnya mengemukakan pertanyaan-pertanyaan tentang sistem ekonomi yang umum dan khusus, dan pada gilirannya menimbulkan pertanyaan-pertanyaan tentang tepat atau tidaknya pemakaian bahasa moral untuk menilai sistem-sistem ekonomi, struktur bisnis.
Contoh praktek etika bisnis yang dihubungkan dengan moral :
Uang milik perusahaan tidak boleh diambil atau ditarik oleh setiap pejabat perusahaan untuk dimiliki secara pribadi. Hal ini bertentangan dengan etika bisnis. Memiliki uang dengan cara merampas atau menipu adalah bertentangan dengan moral. Pejabat perusahaan yang sadar etika bisnis, akan melarang pengambilan uang perusahaan untuk kepentingan pribadi, Pengambilan yang terlanjur wajib dikembalikan.
Pejabat yang sadar, disebut memiliki kesadaran moral, yakni keputusan secara sadar diambil oleh pejabat, karena ia merasa bahwa itu adalah tanggungjawabnya, bukan saja selaku karyawan melainkan juga sebagai manusia yang bermoral.
Contoh tidak memiliki kesadaran moral :
Seorang berdarah dingin di jalan juanda, Jakarta yang asangat ramai itu menodong dengan clurit dan merampas harta milik seseorang. Baginya menodong itu merupakan kebiasaan dan menjadi profesinya. Apakah ada kesadaram moral bahwa perbuatan itu bertentangan dan dilarang oleh ajaran agama, hukum dan adat? Sejak kecil ia ditingggalkan oleh ibu bapaknya akibat perceraian, ia bergaul dengan anak gelandangan,pencuri. Sesudah dewasa menjadi penodong ulung. Ia menodong atau membunuh tanpa mengenal rasa takut atau berdosa, bahkan sudah merupakan suatu profesi.
SUB
POKOK BAHASAN II
PENGERTIAN
DEFINISI TUJUAN dan FUNGSI ETIKA BISNIS
Pada
kesempatan kali ini, pembahasan kita adalah tentang etika dalam berbisnis, yang
dimulai daripengertian etika bisnis, tujuan diadakannya etika dalam berbisnis,
hingga fungsi dari etika bisnis itu sendiri. Nah jika Anda tertarik dengan
dunia bisnis, maka Anda perlu mengenal sekaligus belajar mengenai etika dalam
berbisnis.
Anda
jangan menyepelekan sebuah bisnis, karena dalam dunia bisnis juga terdapat etikanya
atau aturan main dalam menjalankan bisnis yang akan Anda rintis. Hal ini
dilakukan agar dalam menjalankan bisnisnya tidak asal-asalan alias ngawur
seenak Anda sendiri tanpa melihat dan memperhatikan rambu-rambu yang sudah
ditetapkan.
1.
Definisi
Etika Bisnis
Kita
awali pembahasan kita kali ini dengan definisi etika bisnis. Pertama adalah kata etika, Menurut
bahasa Yunani, kata etika berawal dari kata ethos yang memiliki arti sikap,
perasaan, akhlak, kebiasaan, watak. Sedangkan Magnis Suseno berpendapat bahwa
etika merupakan bukan suatu ajaran melainkan suatu ilmu.
Kata
kedua adalah bisnis, yang diartikan sebagai suatu usaha. Jika kedua kata
tersebut dipadukan, yaitu etika bisnis maka dapat didefinisikan sebagai suatu
tata cara yang dijadikan sebagai acuan dalam menjalankan kegiatan berbisnis.
Dimana dalam tata cara tersebut mencakup segala macam aspek, baik dari
individu, institusi, kebijakan, serta perilaku berbisnis.
Pengertian
Etika Bisnis dan Cara Penyusunannya. Untuk menyusun etika bisnis yang bagus,
maka perlu diperhatikan beberapa hal berikut ini, yaitu tentang pengendalian
diri, pertanggungjawaban sosial, menjadikan persaingan secara sehat, penerapan
konsep yang berkelanjutan, dapat mempertahankan keyakinannya, konsisten dengan
sebuah aturan yang sudah disepakati bersama, penumbuhan kesadaran serta rasa
memiliki dengan apa yang sudah disepakati, menciptakan suatu sikap untuk saling
percaya pada antar golongan pengusaha, serta perlu diadakannya sebagian dari
etika bisnis untuk dimasukkan dalam hukum yang dapat berupa suatu
perundang-undangan.
2.
Tujuan
Etika Bisnis
Pengertian
Etika Bisnis dan Tujuan Dibuatnya Etika Bisnis. Pada dasarnya sebuah etika
bisnis ini digalakkan karena memiliki maksud dan tujuan tertentu dalam dunia
bisnis. Adapun tujuan etika bisnis adalah untuk menjalankan dan menciptakan
sebuah bisnis seadil mungkin serta menyesuaikan hukum yang sudah dibuat. Selain
itu, juga dimaksudkan untuk menghilangkan ketergantungan pada sebuah kedudukan
individu maupun perusahaan.
Etika
bisnis ini tingkatannya lebih luas jika dibanding dengan ketentuan yang sudah diatur
berdasarkan hukum yang berlaku, bahkan jika dibandingkan dengan standar minimal
dari ketentuan hukum maka etika bisnis menjadi standar atau ukuran yang lebih
tinggi. Hal ini dikarenakan, dalam kegiatan berbisnis tidak jarang kita jumpai
adanya bagian abu-abu dan tidak diatur berdasarkan ketentuan hukum.
3.
Fungsi
Etika Bisnis
Pengertian
Etika Bisnis dan Fungsi Penerapan Etika Bisnis. Dalam penerapan etika bisnis
ini tentu akan adalah nilai plus atau keuntungan tersendiri bagi sebuah
perusahaan, baik dalam jangka waktu yang panjang maupun menengah. Adapun fungsi
etika bisnis diantaranya adalah dapat mengurangi dana yang diakibatkan dari
pencegahan yang kemungkinan terjadinya friksi atau perpecahan, baik dari intern
perusahaan itu sendiri maupun ekstern.
Selain
itu, dalam penerapan etika bisnis ini juga berfungsi untuk membangkitkan
motivasi pekerja agar terus meningkat, melindungi prinsip dalam kebebasan
berdagang atau berniaga, serta dapat meciptakan keunggulan dalam bersaing.
Secara
umum, suatu tindakan perusahaan yang kurang etis akan membuat konsumen menjadi
terpancing dan pada akhirnya muncullah sebuah tindakan pembalasan. Seperti
contoh adanya larang beredarnya suatu produk, gerakan pemboikotan, dan yang
sejenisnya, maka yang terjadi adalah penurunan nilai jual dan juga perusahaan.
Hal
ini tentu berbeda dengan suatu perusahaan yang menghargai adanya etika bisnis,
pasti akan mendapatkan peringkat kepuasan yang lebih tinggi. Nah, sampai disini
pembahasan kita tentang pengertian etika bisnis, selamat untuk Anda yang berani
masuk dalam dunia bisnis dan tentunya dengan menjunjung tinggi adanya etika
bisnis.
SUB
POKOK BAHASAN III
PERBEDAAN PENGRTIAN
ETIKA, ETIKET , MORAL, HUKUM dan AGAMA
Perbedaan Etika dan Etiket :
Seringkali dua istilah tersebut disamakan artinya, padahal perbedaan antara keduanya sangat mendasar. Dari asal katanya saja berbeda, yakni Ethics dan Ethiquetle. Etika berarti moral sedangkan Eiket berarti sopan santun.
Namun meskipun berbeda, ada persamaan antara keduanya, yaitu :
- Keduanya menyangkut perilaku manusia
- Etika dan eiket mengatur perilkau manusia secara
normative, artinya memberi norma bagi perilku manusia dan dengan demikian
menyatakan apa yang harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan.
Perbedaannya yang penting antara lain yaitu :
- Etiket menyangkut cara suatu perbuatan harus
dilakukan manusia. Diantara beberapa cara yang mungkin, etiket menunjukkan
cara yang tepat, artinya cara yang diharapkan serta ditentukan dalam suatu
kalangan tertentu.
- Etika tidak terbatas pada cara dilakukannya suatu
perbuatan. Etika menyangkut pilihan yaitu apakah perbuatan boleh dilakukan
atau tidak.
- Etiket hanya berlaku dalam pergaulan. Bila tidak
ada saksi mata, maka maka etiket tidak berlaku.
- Etika selalu berlaku meskipun tidak ada saksi
mata, tidak tergantung pada ada dan tidaknya seseorang.
- Etiket bersifat relatif artinya yang dianggap
tidak sopan dala suatu kebudayaan, isa saja diangap sopan dalam kebudayaan
lain.
- Etika jauh lebih bersifat absolut.
Prinsip-prinsipnya tidak dapat ditawar lagi.
- Etiket hanya memadang mausiadari segi lahiriah
saja.
Etika menyangkutmanusia dari segi dalam. Orang yang bersikap etis adalah orang yang sungguh-sungguh baik.
Perbedaan Moral dan Hukum :
Sebenarnya ataa keduanya terdapat hubungan yang cukup erat. Karena anatara satu dengan yang lain saling mempegaruhi dan saling membutuhkan. Kualitas hukum ditentukan oleh moralnya. Karena itu hukum harus dinilai/diukur dengan norma moral. Undang-undang moral tidak dapat diganti apabila dalam suatu masyarakat kesadaran moralnya mencapai tahap cukup matang. Secaliknya moral pun membutuhkan hukum, moral akan mengambang saja apabil atidak dikukuhkan, diungkapkan dan dilembagakan dalam masyarakat. Dengan demikian hukum dapat meningkatkan dampak social moralitas.
Walaupun begitu tetap saja antara Moral dan Hukum harus dibedakan. Perbedaan tersebut antara lain :
- Hukum bersifat obyektif karena hukum dituliskan
dan disusun dalam kitab undang-undang. Maka hkum lebih memiliki kepastian
yang lebih besar.
- Norma bersifat subyektif dan akibatnya seringkali
diganggu oleh pertanyaan atau diskusi yang menginginkan kejelasan tentang
etis dan tidaknya.
- Hukum hanya membatasi ruang lingkupnya pada
tingkah laku lahiriah manusia saja.
- Sedangkan moralitas menyangkut perilaku batin
seseorang.
- Sanksi hukum bisanya dapat dipakasakan.
- Sedangkan sanksi moral satu-satunya adalah pada
kenyataan bahwa hati nuraninya akan merasa tidak tenang.
- Sanksi hukum pada dasarnya didasarkan pada
kehendak masyarakat.
- Sedangkan moralitas tidak akan dapat diubah oleh
masyarakat
Perbedaan
Etika dan Agama :
Etika mendukung keberadaan Agama, dimana etika sanggup membantu manusia dalam menggunakan akal pikiran untuk memecahkan masalah.
Perbedaan antara etika dan ajaran moral agama yakni etika mendasarkan diri pada argumentasi rasional. Sedangkan Agama menuntut seseorang untuk mendasarkan diri pada wahtu Tuhan dan ajaran agama.
Etika dan
Moral
Etika lebih condong kearah ilmu tentang baik atau buruk. Selain itu etika lebih sering dikenal sebagai kode etik.
Moralitas adalah sifat moral atau keseluruhan asas dan atau nilai yang berkenaan dengan baik buruk.
Dua kaidah dasar moral adalah :
- Kaidah Sikap Baik. Pada dasarnya kita mesti
bersikap baik terhadap apa saja. Bagaimana sikap baik itu harus dinyatakann
dalam bentuk yang kongkret, tergantung dari apa yang baik dalam situasi
kongkret itu.
- Kaidah Keadilan. Prinsip keadilan adalah kesamaan
yang masih tetap mempertimbangkan kebutuhan orang lain. Kesamaan beban
yang terpakai harus dipikulkan harus sama, yang tentu saja disesuaikan
dengan kadar angoota masing-masing.
SUB
POKOK BAHASAN IV
KLASIFIKASI
ETIKA
1.
Etika Normatif
Etika
normatif merupakan cabang etika yang penyelidikannya terkait dengan
pertimbangan-pertimbangan tentang bagaimana seharusnya seseorang bertindak
secara etis. Dengan kata lain, etika normatif adalah sebuah studi tindakan atau
keputusan etis. Di samping itu, etika normatif berhubungan dengan
pertimbangan-pertimbangan tentang apa saja kriteria-kriteria yang harus
dijalankan agar sautu tindakan atau kepusan itu menjadi baik (Kagan, 1997, 2).
Dalam etika normatif ini muncul teori-teori etika, misalnya etika utilitarianisme, etika deontologis, etika kebajikan dan lain-lain. Suatu teori etika dipahami bahwa hal tersebut mengajukan suatu kriteria tertentu tentang bagaimana sesorang harus bertindak dalam situasi-situasi etis (Williams, 2006, 72). Dalam pengajukan kriteria norma tersebut, teori etika akan memberikan semacam pernyataan yang secara normatif mengandung makna seperti "Fulan seharusnya melakukan X" atau "Fulan seharusnya tidak melakukan X".
Harus
dipahami bahwa setiap teori etika didasarkan pada sebuah kriteria tertentu
tentang apa yang etis untuk dilakukan. Kriteria ini disusun berdasarkan
prioritas, di mana dari kriteria umum bisa diturunkan menjadi prinsip-prinsip
etis yang lebih konkret. Dengan begitu, suatu tindakan dapat disebut etis jika ada
kondisi-kondisi tertentu yang memenuhi prinsip-prinsip etis yang diturunkan
dari kriteria umum dalam sebuh teori etika normatif tersebut.
Misalnya
pada teori etika utilitarian, kriteria umum itu adalah suatu tindakan dianggap benar atau
baik jika menghasilkan utilitas paling besar bagi semua orang yang terpengaruh
oleh tindakan atau keputusan tersebut, termasuk orang yang melakukan tindakan.
Lain halnya dengan teori etika deontologis Kant yang punya kriteria umum
sebagai berikut: "Bertindaklah seolah-olah maksim tindakan Anda melalui
keinginan Anda sendiri dapat menjadi sebuah Hukum Alam yang Universal"
(Tännsjö, 2008, 56-58).
2.
Etika Terapan
Etika
terapan merupakan sebuah penerapan teori-teori etika secara lebih spesifik
kepada topik-topik kontroversial baik pada domain privat atau publik seperti
perang, hak-hak binatang, hukuman mati dan lain-lain. Etika terapan ini bisa
dibagi menjadi etika profesi, etika bisnis dan etika lingkungan. Secara umum
ada dua fitur yang diperlukan supaya sebuah permasalahan dapat
dianggap sebagai masalah etika terapan.
Pertama,
permasalahan tersebut harus kontroversial dalam arti bahwa ada
kelompok-kelompok yang saling berhadapan terkait dengan permasalahan moral.
Masalah pembunuhan, misalnya tidak menjadi masalah etika terapan karena semua
orang setuju bahwa praktik tersebut memang dinilai tidak bermoral. Sebaliknya,
isu kontrol senjata akan menjadi masalah etika terapan karena ada kelompok yang
mendukung dan kelompok yang menolak
terhadap isu kontrol senjata.
Kedua,
sebuah permasalahan menjadi permasalahan etika terapan ketika hal itu punya
dimensi dilema etis. Meskipun ada
masalah yang kontroversial dan memiliki dampak penting terhadap masyarakat, hal
itu belum tentu menjadi permasalahan etika terapan. Kebanyakan masalah yang
kontroversial di masyarakat adalah masalah kebijakan sosial. Tujuan dari
kebijakan sosial adalah untuk membantu suatu masyarakat tertentu berjalan
secara efisien yang dilegitimasinya disandarkan pada konvensi tertentu, seperti
undang-undang, peraturan-peraturan dan lain-lain (Debashis, 2007, 28-30).
Berbeda
dengan permasalahan etis yang
lebih bersifat universal, seperti kewajiban untuk tidak berbohong, dan tidak
terbatas pada suatu masyarakat tertentu saja. Seringkali memang isu-isu
kebijakan sosial tumpang tindih dengan isu-isu moralitas. Namun, dua kelompok
isu tersebut bisa dibedakan dengan mengunakan kedua pendekatan yang dilakukan
di atas.
Dengan
begitu bisa dimengerti bahwa istilah etika terapan digunakan untuk
menggambarkan upaya untuk menggunakan metode filosofis mengidentifikasi apa
saja yang benar secara moral terkait dengan tindakan dalam berbagai bidang
kehidupan manusia. Misalnya, bioetika yang berhubungan dengan mengidentifikasi
pendekatan yang benar untuk persoalan-persoalan seperti euthanasia, penggunaan
embrio manusia dalam penelitian dan lain-lain.
3.
Etika Deskriptif
Etika
deskriptif merupakan sebuah studi tentang apa yang dianggap 'etis' oleh
individu atau masyarakat. Dengan begitu, etika deskriptif bukan sebuah etika
yang mempunyai hubungan langsung dengan filsafat tetapi merupakan sebuah bentuk
studi empiris terkait dengan perilaku-perilaku individual atau kelompok. Tidak
heran jika etika deskriptif juga dikenal sebagai sebuah etika komparatif yang
membandingkan antara apa yang dianggap etis oleh satu individu atau masyarakat
dengan individu atau masyarakat yang lain serta perbandingan antara etika di
masa lalu dengan masa sekarang. Tujuan dari etika deskriptif adalah untuk
menggambarkan tentang apa yang dianggap oleh seseorang atau masyarakat sebagai
bernilai etis serta apa
kriteria etis yang digunakan untuk menyebut seseorang itu etis atau tidak
(Kitchener, 2000, 3).
Penyelidikan etka deskriptif juga melibatkan tentang apa yang dianggap oleh seseorang atau masyarakat sebagai sesuatu yang ideal. Artinya, kajian ini melihat apa yang bernilai etis dalam diri seseorang atau masyarakat merupakan bagian dari suatu kultur yang diwariskan dari satu generasi ke generasi yang lain. Akan tetapi, etika deskriptif juga memberikan gambaran tentang mengapa satu prinsip etika bisa ditinggalkan oleh genarasi berikutnya.
Oleh
karena itu, etika deskriptif melibatkan stud-studi empris seperti psikologi,
sosiologi dan antropologi untuk memberikan suatu gambaran utuh. Di sini
antropologi dan sosiologi mampu memberikan segala macam informasi mengenai
bagaimana masyarakat di masa lalu dan sekarang menciptakan standar moral dan
bagaimana masyarakat itu ingin orang bertindak. Sedang, psikologi bisa
melakukan sebuah studi tentang bagaimana seseorang punya kesadaran tentang apa
itu baik dan buruk serta bagaimana seseorang membuat keputusan moral dalam
situas nyata dan situasi hipotetis (Kitchener, 2000, 3).
Akan
tetapi, etika deskriptif bisa digunakan dalam argumentasi filosofis terkait
dengan masalah etis tertentu. Observasi yang dilakukan oleh ilmu-ilmu empiris
dalam etika deskripsi seringkali menjadi argumen untuk relativisme etis.
Beragamnya fenomena dan perilaku etis di antarbudaya memberikan pemahaman bahwa
apa yang baik dan buruk tidaklah absolut, tetapi relatif. Dalam konteks ini, moralitas
dianggap relatif pada tingkat antarbudaya. Hal ini juga memberikan pemahaman
bahwa moralitas merupakan sebuah konstruksi sosial sehingga sangat tergantung
kepada subjek etis dalan lingkungannya.
Ringkasnya,
etika deskriptif mempertanyakan
dua hal berikut:
1. Apa yang
seseorang atau masyarakat klaim sebagai "baik"?
2. Bagaimana orang
bertindak secara nyata ketika berhadapan dengan masalah-masalah etis?
4.
Metaetika
Metaetika
berhubungan dengan sifat penilaian moral. Fokus dari metaetika adala arti atau
makna dari pernyataan-pernyataan yang ada di dalam etika. Dengan kata lain,
metaetika merupakan kajian tingkat kedua dari etika. Artinya, pertanyaan yang
diajukan dalam metaetika adalah apa makna jika kita berkata bahwa sesuatu itu baik?
Metaetika juga bisa dimengerti sebagai sebuah cara untuk melihat fungsi-fungsi pernyataan-pernyataan etika, dalam arti bagaimana kita mengerti apa yang dirujuk dari pernyataan-pernyataan tersebut dan bagaimana pernyataan itu didemonstrasikan sebagai sesuatu yang bermakna.
Perkembangan
metaetika awalnya merupakan jawaban atas tantangan dari Positivisme Logis yang
berkembang pada abad 20-an (Lee, 1986, 8). Kalangan pendukung Positivisme Logis
berpendapat bahwa jika tidak bisa memberikan bukti yang menunjukkan sebuah
pernyataan itu benar, maka pernyataan itu tidak bermakna. Ketika prinsip dari
Positivisme Logis juga diujikan kepada pernyataan-pernyataan etis, maka
pernyataan-pernyataan itu harus berdasarkan bukti. Ringkasnya, jika tidak ada
bukti, maka tidak ada makna.
Di
sini kata kuncinya adalah apa yang dikenal dengan "naturalistic fallacy",
yaitu dianggap akan melakukan kesalahan jika kita menarik suatu pernyataan
tentang apa yang seharusnya dari pernyataan tentang apa yang ada. Kesulitan dari bahasa etika adalah
penyataan-pernyataannya tidak selalu berupa fakta. Disinilah peran sentral dari metaetika
yang mengembangkan berbagai cara untuk menjelaskan apa yang dimaksud dengan
bahasa etika dengan intensi bahwa pernyataan-pernyataan etis punya makna. Dalam
pembahasan ini metaetika biasanya terbagi menjadi dua, yaitu realisme etis dan
nonrealisme etis.
DAFTAR PUSTAKA :
http://dedifahradi.blogspot.co.id/2011/06/hakikat-etika-bisnis.html
http://bundesliga-tipp.blogspot.co.id/?expref=next-blog
http://etika-kita.blogspot.co.id/2008/04/perbedaan-pengertian-etika-etiket-moral.html
http://bisnisi.com/pengertian-definisi-tujuan-dan-fungsi-etika-bisnis/